HomeSICK!!!

Semakin mendekat ke akhir tahun. Isi hatiku semakin bergejolak dengan rasa sepi. Yah..sepi karena aku tidak merasakan hommy. Aku sudah mencoba kesana kemari dari satu tempat saudara ke tempat yang lain hanya untuk bisa merasakan ‘rumah’. Tapi rasa itu tidak terisi juga di hatiku… Mungkin bagi orang lain apa yang kurasakan ini tidak terlalu sulit karena merupakan penyesuaian yang harus aku alami di bulan ke tiga sampai ke enam. Tapi buat aku ini berbeda sungguh berbeda karena ketika pusat perbelanjaan di Jakarta mulai dipenuhi dengan ‘hiasan2 natal’ hatiku justru semakin berontak. Bahkan sempat tanpa sengaja di hatiku berkata "aku benci natal". Seolah aku menolak untuk tahun ini segera berlalu, waktu berjalan terlalu cepat dan perlahan demi perlahan suatu kenyataan semakin mematahkan hatiku. Andai saja aku bisa menemukan dimana ‘rumah’ itu berada mungkin hatiku tidak akan begini.

Kemaren entah tanpa hujan dan petir tiba-tiba saja aku menangis di kantor. Woooww aku pun shock melihat keadaanku seperti itu. Apalagi teman-temanku. Mereka sampai kebingungan. Aku juga kurang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja tiba-tiba ada perasaan sakit yang menjalar di hatiku seperti akar-akar pohon yang menjalar kemudian mencengkeram tanah. Periiihhh…

Peperangan pun terjadi di hatiku. Antara rasa ingin memuaskan untuk menangis dan rasa yang mengatakan kalau aku harus kuat. Dan akhirnya rasa yang mengatakan kalo aku harus kuat pun yang menang. Di tengah air mata yang menetes dan mata yang merah pun aku tertawa…hahahaha. Tertawa dengan kebodohanku.

Dan mereka pun mengatakan kalau aku sudah gila.

Kalau bisa gila. Mungkin aku akan memilih untuk jadi gila saja. Hidup jadi lebih mudah. Melihat hidup dengan pemikiran sendiri dan punya dunia dimana hanya ada aku di dalamnya. Tapi itu toh bukan jalan keluar. Iya bukan?

Akhirnya yang bisa kulakukan adalah berdoa. Hemmm hanya dalam doa aku menemukan kekuatan. Dan ketika pulang di dalam kamar aku kembali menangis. Namun kali ini bukan menangis karena kebodohanku. Namun aku menangis karena hangatnya pelukan yang kudapatkan dari Dia. Dia ada di hadapanku memelukku dengan begitu eratnya sampai2 aku sendiri merasa kalo tubuhku telah menyatu dalam ragaNya (mungkin begitulah kenyataannya).

Yah…akhir itu belum ada. Masih ada jala-jala yang harus dirangkai yang akhirnya akan menjadi satu kesatuan. Tapi itu sekarang belum selesai. Masih ada banyak rangkaian yang harus di susun. Begitu pun dengan diriku. Masih ada banyak hal yang akan dirangkai dalam diriku dan itu kini belum selesai. Aku tidak tahu kemana Dia akan membawaku sekarang. Aku bahkan tak mengeti bagaimana aku bisa sampai di sini. Yang aku tahu Dia yang menuntunku dan menggenggam tanganku. Jadi kalau besok ternyata aku ada di sana. Jangan pernah kalian bertanya mengapa? Karena aku pun tak tahu jawaban apa yang harus kuberikan.

"Hidupku bukan milikku lagi…"

Just it.

Leave a Reply